Umar bin Khattab “Yang Mentalak Tiga Dunia, Yang Membebaskan Palestina”

Seperti yang kita tau Umar bin Khattab radhyallahu’anhu adalah sosok yang luar biasa, tidak tanggung-tanggung, setan saja lari ketika melihat Umar. Bukan hanya karena sebagai sahabat utama Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasalam setelah Abu Bakar radhiyallahu’anu, tapi juga karena keimanannya yang amat kokoh, dia tidak hanya tegas pada orang lain ketika menerpakan syariat islam, tapi dia juga tegas pada dirinya sendiri dalam menjalankan ajaran agama yang mulia ini terutama dalam mengekang hawa nafsunya dan zuhud terhadap dunia.

Apabila sebagian orang terlebih hari ini akan bergembira dengan pencapaian dunia, senang kalau bertambahnya harta namun terbalik dengan Umar. Pernah suatu waktu harta ghanimah didatangkan di hadapannya banyak sekali. Lalu umar memperhatikan harta-harta itu sambil berputar-putar, tidak lama matanya berkaca-kaca menunjukan kesedihan. Kemudian sahabat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu’anhu pun bertanya, “kenapa engkau menangis? Demi Allah seharusnya ini moment yang bagus untuk bersyukur.” Umar pun menjawab “Kalau harta ini aku berikan pada suatu kaum, pasti akan menimbulkan suatu pertengkaran dan kebencian di antara mereka”. Begitulah Umar menyikapi harta, dia tahu betul bagaimana efek samping dari harta itu walaupun jelas harta juga banyak manfaatnya bila digunakan dengan iman.

Pada masa pemerintahannya atas izin Allah wilayah muslimin meluas seiring dengan ekspansi pembukaan berbagai wilayah di sekitaran Jazirah Arab. Peradaban Persia yang sudah berdiri ratusan tahun pun akhirnya runtuh di masa Umar. Dengan Sa’ad bin Abi Waqash sebagai panglima besarnya yang memimpin misi saat itu. Tidak hanya itu, negeri Syams yang merupakan daerah kekuasan Romawi pun berhasil Umar bebaskan dengan menunjuk Abu Ubaidah Al Jarrah sebagai panglimanya. Dan di waktu itu jugalah kota suci Alquds (Jerusalem) terbebaskan termasuk Masjidil Aqsha di dalamnya.

Ketika Amr bin Ash radhiyallauhu’anhu bertemu dengan pendeta Sophornius yang memegang kunci Alquds untuk mnyerahkan kunci kota tersebut namun pendeta itu pun menolak. Karena bukan orang yang seperti Amr lah yang menaklukan Alquds menurut Sophronius. Karena penaklukan Alquds sudah di tuliskan di dalam injil bagaimana sosok pemimpin yang akan membebaskannya. Maka dipanggillah Umar bin Khattab sebagai pemimpin tertinggi muslimin untuk prosesi serah terima kota suci tesebut.

Mendengar kabar tersebut, pergilah Umar ke Alquds dari Madinah berdua bersama asistennya. Mereka pergi hanya dengan satu kendaraan dan naik secara bergantian. Dalam jarak sekian kilo Umar naik dan asistennya yang menuntun lalu sekian kilo kemudian Umar yang menuntun dan asistennya yang naik. Dan setibanya di bibir kota Alquds bagian Umar lah yang berjalan kaki menuntun dan asistennya yang naik tunggangan. Tambah lagi dengan baju Umar yang penuh tambalan, membuat seluruh orang yang ada di sana tercengang tidak terkecuali pasukan muslimin yang sudah mengenal Umar bin Khattab.

Begitulah Umar perhiasan dunia tidak jadi soal bagi dirinya. Dia menerima kunci kota suci dan membuat perjanjian dengan penduduk nasrani dengan kerendahan hati dengan kesederhanaan diri namun keagungan jiwa. Lihatlah sosok Umar, palestina dibebaskan oleh kesederhanaan bukanlah kemewahan. Sikap zuhud yang Umar perlihatkan adalah perwujudanya dalam mengikuti jejak dua sahabat yang dicintainya yaitu Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam dan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu’anhu.

Ketika itu Umar pernah mengatakannya langsung pada putrinya Hafshah radhiyallahu’anha ketika putrinya itu mendesaknya untuk membeli pakaian baru yang lebih layak untuk seorang pemimpin, Umar pun berkata, “demi Allah kalau aku mampu, aku akan meniru beliau berdua dalam hal sama-sama mengalami kehidupan yang susah, dengan harapan semoga aku mendapatkan kehidupan yang menyenangkan (di akhirat) seperti kehidupan mereka berdua (Rasulullah dan Abu Bakar).”

Penulis: Abu Musa Muhammad Randi

Bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau randirowley@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *