Ukhuwah Solusi Kemajuan Umat, Potret dua Sa’ad

Pasca hijrah, ekonomi muslimin khususnya kaum muhajirin menurun drastis. Mereka datang tidak dengan seluruh hartanya. Keadaan ekonomi mereka hancur karena perlakuan dari kafir Quraisy, mereka hijrah hanya dengan harta yang mereka sanggup bawa. Bahkan ada dari mereka yang hanya membawa pakaian yang menempel di badan. Harta mereka habis semua dirampas oleh kafir Quraisy.

Keadaan kaum muhajirin saat itu tentu menjadi persoalan baru bagi kehidupan sosial mereka, walaupun tidak dengan iman mereka. Karena keyakinan atas kebesaran Allah beserta janji Nya sudah tertancap kokoh dalam dada muhajirin. Untuk menyelesaikan persoalan itu Nabi Muhammad sallallahu‘alaihi wassalam mempersaudarakan muslimin yang berhijrah dari Mekah atau kaum muhajirin dengan muslimin penduduk Madinah yaitu kaum Anshar.

Dengan persaudaraan itu mereka menjadi pelindung satu sama lain. Banyak persoalan sosial yang terselesaikan karenanya. Dengan keimanan dan kemurahan hati kaum Anshar, membuat kaum Muhajirin kala itu terbantukan. Dan keadaan muslimin secara keseluruhan menjadi maju dan berkembang pesat di pusat dakwah, kota Madinah. Dengan semangat persaudaraan dan keimanan yang terpatri dalam hati, mereka bahu membahu mensupport sesamanya. Mereka mendahulukan saudara seiman mereka walaupun kadang mereka sendiri pun butuh, sekalipun mereka sedang dalam kesusahan juga. Tapi semua itu tidak mengendorkan semangat mereka untuk menyokong saudaranya. Karena yang mereka harapkan hanyalah balasan dan ampunan dari Allah ta’ala.

Yang mahsyur perihal persaudaraan dan kedermawaan salah satunya ialah kisah antara Sa’ad bin Rabi’ salah satu hartawan Anshar yang dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu’anhuma. Ketika itu dengan ringannya Sa’ad menawarkan separuh hartanya sekaligus sebagian bisnisnya untuk Abdurrahman. Tidak hanya itu, bahkan dia rela menceraikan salah satu istrinya untuk diberikan pada Abdurrahman jika dia mau menikahinya. Luar biasa, ini merupakan keimanan dan persaudaraan papan atas. Bagaimana seseorang rela berkorban seperti itu untuk orang lain, untuk saudara seimannya. Pantaslah Allah ridho pada mereka para sahabat yang mulia. Di sisi lain, yang tidak kalah luar biasanya, dengan tenang dan menawan Abdurrahman menolaknya secara baik-baik, dia mendoakan keberkahan untuk Sa’ad dan hanya meminta ditunjukan dimana letaknya pasar. Ya dengan keahliannya, sepulang dari pasar Abdurrahman sudah pulang dengan mendapatkan laba, dan singkat cerita dia pun terus berkembang ekonominya dari waktu ke waktu. Singkat cerita pernah suatu hari Abdurrahman dengan kabilah dagangnya memenhui jalanan Madinah dan dia mengiklankan pada muslimin untuk memgambil harta-hartanya sesukanya. MashaAllah sungguh luar biasa.

Kisah lain dari Sa’ad lainnya, yaitu Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu’anhu. Dia adalah hartawan sekaligus pemimpin Anshar dari suku Khazraj. Sa’ad bin Ubadah memang sejak dulu terkenal dengan kedermawanannya. Dia terbiasa membantu muslimin lainnya, menyumbangkan hartanya di jalan Allah. Ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam mendidik dan memberikan ilmu kepada sahabat-sahabat ahlu suffah, yang notabene kebanyakan dari mereka hidup miskin tidak punya tempat tinggal. Para sahabat-sahabat lainnya menopang kebutuhan mereka, agar mereka tetap bisa menutunt ilmu bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam. Beberapa sahabat pebisnis atau yang mereka yang memliki kebun biasanya membawa 1-3 orang ahlu shuffah ke rumahnya untuk diajak makan. Tapi berbeda dengan Sa’ad bin Ubadah, dia dapat membawa 80 orang ahlu suffah ke rumahnya untuk diajak makan dan dipenuhi keperluan hidupnya. Kedermawawanan yang luar biasa yang diperlihatkan oleh sahabat yang satu ini. Keimanan yang kokoh membuatnya tidak ragu dalam menolong sesama, dan nantinya banyak dari ahlu suffah ini menjadi orang sukses. Contohnya seperti Abu Hurrairah radhiyallahu’anhu yang menjadi perawi hadist terbanyak, juga sempat menjadi gubernur di Bahrain di masa Umar. Ada pula Sa’id bin Amir radhiyallahu’anh yang menjadi gubernur di Homs di wilayah Syams. Mereka tidak lain adalah ahlu suffah yang pernah hidup susah dan dibantu oleh sahabat lainnya dengan semangat persaudaraan.

Begitulah kehidupan muslimin, saling menopang satu sama lain. Memakmurkan sesama, dan memajukan islam bersama.
Semoga kisah singkat ini bisa menambah iman kita dan menjadi inspirasi bagi kita untuk beramal sholeh, dan bangkit bersama.

Penulis: Abu Musa Muhammad Randi

Bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau randirowley@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *