Spirit Qurban: Cinta dan Pengorbanan

Tadabur qs 2:124

Saat ini kita berada di penghujung 10 hari pertama bulan zulhijjah. Hari-hari paling mulia di muka bumi, penuh berkah dan paling afdhol untuk berbuat kebaikan, hari-hari terbaik memanjatkan doa krndoa-doa diijabah, pintu ampunan dibuka luas, pahala dilipat gandakan sebagaimana dosa.Siapa yang melewatkan kesempatan emas di 10 hari ini, maka ia merugi serugi-seruginya.

Allah ta’ala telah bersumpah dalam surat al Fajar ayat 1-2, yang artinya, “demi waktu fajar dan hari-hari yang sepuluh.” Ibnu Abas ra dan para mufasirin mengatakan bahwa yang dimaksud ialah 10 hari pertama bulan zulhijjah. keistimewaan tersebut dipungkas dengan Ibadah yang sangat agung yaitu ibadah Haji dan Qurban yang dilaksanakan di hari raya iduladha hingga 3 hari setelahnya.

Sebagian pasti telah mempersiapkan hewan kurban terbaik yg akan dipersembahkan kepada Allah. Sebagai sikap berteladan kepada kekasih Allah (kholilullah), nabi Ibrahim alaihis salam dan keluarga beliau.

Rasa suka cita yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim a.s untuk berkurban dilandasi oleh kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini: anak, isteri, suami, harta, pangkat, jabatan dan lain-lain, semuanya anugerah Allah dan pasti akan kembali kepada Allah. Kesadaran ini membuat mereka selalu ingin mendekat kepada Allah sehingga perintah Allah malah menjadi media sebaik-baiknya untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah tanpa melihat untung dan rugi, enak dan tak mengenakan, mudah dan sulit, maupun berat dan ringannya.

Ketika Nabi Ismail a.s, menginjak usia remaja, sang ayah Nabi Ibrahim a.smendapat perintah langsung dari Allah lewat mimpi kenabian bahwa beliau harus mengurbankan Ismail putra kesayangannya. Nabi Ibrahim duduk termenung memikirkan ujian sangat berat yang beliau hadapi. Bayangkanlah bagaimana kegembiraan hati sang ayah yang telah lama mendambakan generasi pengganti danpenerus risalah kenabian. sekian tahun lamanya menanti. Bayangkanlah bagaimana kuat kecintaan beliau terhadap putra semata wayangnya, anak kandung kepingan hati, belahan jiwa, cahaya mata, pelepas rindu, tiba-tiba harus dijadikan kurban. Apalagi kurban itu harus dilakukan dengan tangannya sendiri.

Konflik batin bergejolak sangat dahsyat pada diri Nabi Ibrahima.santara kecintaan kepada anak dan ketaatan memenuhi perintah Tuhannya. Namun, cintanya kepada Allah jauh lebih besar dan lebih tinggi di atas cintanya kepada anak, isteri, harta benda dan materi keduniaan lainnya.

Yang lebih dahsyat lagi keluarga Nabi Ibrahim a.spun menyambut tugas itu dengan suka cita lantaran berkesempatan mengurbankan sesuatu yang paling berharga bagi dirinya untuk Allahta’ala, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran (3): 92 “Dan tidak dianggap membuat kebajikan seseorang di antara kalian sampai kamu menginfakkan sesuatu yang kalian cintai.”

Sikap demikianlah yang memantaskan Nabi Ibrahima.sberpredikat imam, pemimpin, teladan dan khalilullah (kekasih Allah). Derajat Kehormatan tersebut juga tidak lepas dari dukungan istri yang salihah dan anak yang saleh, seperti dilukiskan dalam QS. Al-Baqarah (2): 124. “Perhatikanlah ketika Allah menguji Ibrahim, dengan berbagai kalimat perintah dan harapan, maka semuanya dapat diselesaikan dengan sempurna. Maka Allah berfirman: Sesunggunya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia, Ibrahim berkata: dan saya mohon juga buat keturunanku. Allah berfirman: JanjiKu ini tidak mengenai orang-orang yang zalim”

Penyembelihan kurban merupakan praktek penundukan dan penguasaan kecenderungan-kecenderungan hewani. Kurban disyariatkan guna mengingatkan manusia bahwa jalan menuju kebahagiaan membutuhkan pengorbanan. Memang yang dikurbankan adalah binatang yang terbaik. Tapi pesan intinya tertuju kepada sikap membersihkan jiwa dari sifat-sifat kebinatanganyg bercokol dalam jiwa.

Salah satu pesan penting dalam kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Itulah sebabnya ibadah ini disebut qurban yang secara harfiah berarti: dekat; wujud dan bukti cinta kepada Allah ta’ala.Qurbanjuga memberi maslahat kepada umat, peduli akan kondisi sebagian umat yang diuji dengan kekurangan materi.

Ibunda Aisyah ra. Menuturkan bahwa para sahabat ra, pernah menyembelih kambing, lalu mereka sedekahkan semuanya kecuali pundaknya, kemudian Nabi saw. bertanya: “Bagian apakah yang tersisa dari kambing itu?” Aisyah ramenjawab: “Tidak ada yang tersisa selain pundaknya.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya semuanya masih tersisa, selain pundaknya.”  (Hadis sahih riwayat al-Tirmizi dan Ahmad).

Betapa jeniusnya baginda kita saw, menyampaikan sebuah jawaban logika akhirat. Krn pundak kambing yang dimakan menjadi konsumsi, dan tidak menjadi pahala kekal hingga akhirat. Akan tetapi  semua daging lainnya yang telah disedekahkan, itulah yang kekal hingga akhirat. Allah Ta’ala berfirman; artinya; “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.. ” (qsAn-Naĥl: 96)

Daging atau darah hewan yang kita kurbankan tersebut sekali-kali tidak akan pernah sampai kepada Allah, dan tidak pula akan diangkat kepada-Nya, tetapi yang akan sampai kepada-Nya hanyalah sifat takwa kita kepada Allah di dalamnya.

Happy Ied Adha

Selamat berkurban.

semoga Takwa kita menjadikan derajat kita tinggi dan mulia di sisi Allah ‘azza wajalla. Dia hanya menerima qurbandari orang-orang yang bertakwa. (qs 4 : 27).

bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau nasrul.kng@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *