Spirit Haji: respect dan empati

Tadabur QS 62:2 & 3:97

Setiap syariat yg diturunkan untuk manusia senantiasa mengandung tiga unsur yg sekaligus menjadi tujuannya. Ketiganya yaitu: tauhid, syariat, akhlak (tazkiyatun nafs). Dalam ibadah haji, indikator mabrur terletak pada sikap dermawan dan santun dalam tutur kata. Bukan seperti yg dipikir banyak orang bahwa kemabruran haji ditandai dengan melimpahnya materi selepas haji. Kalaupun itu terjadi, maka sebenarnya itu hanyalah efek dari keberkahan hajinya yg mabrur.

Menjaga lisan dan tutur kata yang baik adalah sikap respect tertinggi. Sebaliknya, Karena lisan lah prahara dan konflik kebanyakan terjadi. Ia lebih tajam dari pedang dan menghunjam ke relung jiwa dalam waktu yang panjang.

Sikap berbagi (sedekah) adalah sikap empati kepada kekurangan dan kesulitan orang lain. sedekah juga dapat menolak bala, menambah harta, obat bagi penyakit, mendatangkan keberkahan, menghindarkan kematian yg buruk, dan tentunya mengundang berkah dan rahmat Allah.

Dalam ibadah puasa, tenyata diterima tidaknya puasa seseorang ada pada sikapnya menjaga lisan saat puasa, dalam hadits dijelaskan barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan (saksi) dusta dan perbuatan bodoh, maka Allah tidak memerlukan puasanya.

Dalam zakat pun demikian, pahalanya bisa hilang karena sikap muzakki yg tidak menjaga lisannya dengan cara menyebut-nyebut pemberiannya itu dan menyakiti perasaan si penerima zakat. Hal itu sebagaimana dalam surat al baqarah ayat 264.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa amal ibadah kita sangat berbanding lurus dengan akhlak kita. Ibadah yang banyak tapi disertai akhlak sosial yg buruk. Maka akhlak buruk itu kelak akan meggerogoti pahala ibadah kita sehingga kita menghadap Allah dengan tangan hampa. Tanpa ada pahala yg dibawa. Semua habis diambil oleh orang yg kita perlakukan secara zalim, baik melalui lisan, tangan, atau sikap. Lebih buruk dari itu jika pahala kita habis, maka dosa org tersebut ditimpakan kepada kita. Sial bin apes.

Oleh sebab itu. Marilah kita jaga amalan ibadah kita dengan cara menjaga akhlak kita kepada sesama. Agar kelak tidak ada yg mengambil pahala kita disebabkan akhlak buruk kita kepada orang lain.

Dalam banyak riwayat disebutkan pesan Rasulullah s.a.w terkait keutamaan akhlak yang bersanding dengan iman:

Sebaik-baik orang diantara kalian ialah yg paling baik akhlaknya. Derajat tertinggi dan sempurnanya seorang dalam beriman ialah yg terbaik akhlaknya.

Tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Penulis : Nasrullah, Lc.,MH (dosen mahad Imarat Bandung & mahad aly Kulliyatul Madinah Tasikmalaya)

bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau nasrul.kng@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *