Produktif dalam taqwa

Tadabur Suratal Isra:17 & Luqman:16

Diantara tanda bagusnya keIslaman seseorang adalah sikapnya meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.Hadis Nabi saw yang dihimpun oleh Imam Nawawi dalam kitab arbain nawawiyah (40 hadis pilihan) yang sangat legendaris dikalangan penuntut ilmu syar’i, dan diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan lainnya dengan sanad yang baik (hasan), dengan gamblang memberikan motivasi agar setiap muslim, demi terjaga keislamannya tetap baik, untuk senantiasa meninggalkan perkara tidak berguna, un-faedah (fruitless), urusan remeh temeh, ikut campur urusan orang lain yang tidak ada hubungan dengannya.

Parahnya lagi, kadang banyak orang yang merasa sangat sibuk. Padahal yang ia geluti adalah hal-hal tidak berguna, ia larut di dalamnya,menghabiskan waktu berlama-lama, tanpa ada faedah yang ia dapatkan, baik manfaat bagi dunianya maupun akhiratnya.

Islam sangat menginginkan agar seorang muslim itu hidupnya produktif. Produktif tidak selalu indentik dengan sibuk, hingga tidak bisa menunaikan hak sekelilingnya. Seseorang yang produktif justru memiliki waktu untuk bersantai dan rileks karena dia telah mengerjakan semua pekerjaannya dengan tepat waktu.

Seorang muslim produktif senantiasa menyadari tujuan dan visi hidup dunia dan akhirat, kemudian menghubungkannya dengan produktivitas, karena goals dari setiap aktivitasnya adalah hasanah fi dunia dan hasanah fil akhirah. Kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Fokus terhadap kehidupan akhirat akan mendorong seorang muslim menuju keseimbangan berbagai peran yang ia mainkan, baik di pekerjaan, bisnis, keluarga, masyarakat, bahkan bagi agama dan negaranya. Ia bisa produktif menghasilkan sesuatu yang berguna dan bermanfaat. Ia menyadari bahwa manusia terbaik adalah ia yang paling bermanfaat bagi sesamanya.Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw yang tercatat dalam kitab sohihul jami.

Produktivitas tidak hanya yang berkaitan dengan aktivitas fisik saja, tapi juga menyentuh aspek yang lebih luas. Yaitu : Produktivitas Spiritual, Produktivitas Fisik, Produktivitas Sosial, bahkan sampai pada Produktivitas kehidupan ukhrowi.

produktif sesungguhnya ialah seni atau cara mengatur energi, fokus, dan waktu.

Dalam surat Luqman, terdapat ayat yang artinya:

 (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (balasannya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

Ayat ini mendorong manusia untuk merasakan pengawasan Allah sehingga tergerak menunaikan ketaatan sesuai kemampuan dan produktif dalam takwa kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun. Allah menjamin penghargaan total dan berlipat2 atas sekecil apapun kebajikan.

Secara bersamaan ayat ini juga mewanti-wanti agar menjauhi keburukan sekecil apapun dalam segala kondisi; sendiri atau keramaian, senang atau susah, dll.

Itulah akar dan pijakan produktivitas tertinggi. Motivasinya tidak berdimensi duniawiyah. Tapi lebih tinggi dari itu semua; motivasi ilahiyah.

Ia yakin dan sadar betul bahwa setiap kebaikan yang dilakukan baik untuk dirinya maupun untuk orang lain , pasti manfaat dan balasan terbaiknya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dalam waktu yang segera, atau setelah beberapa waktu kemudian.

إِنۡأَحۡسَنتُمۡأَحۡسَنتُمۡلِأَنفُسِكُمۡۖوَإِنۡأَسَأۡتُمۡفَلَهَاۚ

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”

Silahkan renungkan ayat Surat Al-Isra’, Ayat 7 diatas. Selamat dan sukses, aamiin.

Penulis : Nasrullah, Lc.,MH (dosen mahad Imarat Bandung & mahad aly Kulliyatul Madinah Tasikmalaya)

Bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau nasrul.kng@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *