Mengenal Kejahiliyyahan, Masa Sebelum Kenabian

Dalam beberapa tahun terakhir, kata hijrah mulai santer terdengar. Orang-orang mulai meninggalkan kebiasaan jahiliyahnya dan membuka lembaran dalam hidup terutama dalam berislam menjadi ke arah yang lebih baik. merupakan angin segar untuk agama ini dan juga kehidupan manusia pada umumnya. Karena kejahiliyyahan pada dasarnya hanya akan membawa manusia pada kehidupan yang buruk, sesat, jauh dari bahagia, dan dampaknya pasti juga buruk pada alam semesta. Lihatlah masyarakat Arab khususnya di Makkah yang hidup dalam kejahiliyyahan sebelum diutusnya Nabi Muhammad sallallhu ‘alaihi wassalam. Mereka menjadi masyrakat yang rusak, meski pada mereka juga masih ada kebaikannya.

Ngomong-ngomong, apa kita sudah benar-benar memahami bagaiamna sih masyarakat Jahiliyyah dulu itu menjalani hidup? Ok insyaaAllah kali ini kita akan bahas bagaimana mereka berkehidupan dalam keadaan jahiliyyah. Ketika itu bangsa Arab khususnya kaum Quraisy dulu hidup di masa fatroh atau masa kekosongan dari petunjuk kenabian. Jarak jeda antara Nabi Isa ‘alaihisalam kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wassalam cukup lama yaitu sekitar kurang lebih 570 tahun. Lama tidak ada yang memberi peringatan sehingga membuat mereka lalai. Semakin hari mereka semakin jauh dari tauhid, kesyirikan dan maksiat merajalela. Wajar saja karena tidak ada yang mengingatkan dan tidak ada juga kitab suci di tengah-tengah mereka sebagai pedoman dan panduan hidup.

Jahiliyyah berarti kebodohan., namun tidak secara denotasi. Karena mereka sejatinya maju dalam berbagai bidang. Contohnya dalam kebudayaan dan sastra mereka sangat maju. Dalam bidang ekonomi mereka pun baik, perdagangan mereka menguasai pasar bahkan sampai ke berbagai wilayah. Perpolitikan mereka pun bisa dikatakan baik. Lantas di sebelah mana letak kebodohan mereka? Mereka bodoh dalam hal ma’rifatullah. Mereka meduakan Allah dengan hal lain, dengan benda mati. Secara rubbubiyah mereka meyakini bahwa Allah itu adalah Tuhan, hanya saja mereka punya illah lain di hati mereka. Mereka menyembah juga berhala yang dibuat oleh tangan sendiri, padahal jelas patung-patung itu tidak bisa berbuat apa-apa, tidak punya daya tidak punya kuasa, hanya benda mati, hanya sesuatu yang lemah tidak berdaya.

Penyembahan selain kepada Allah tersebut jelas membuat manusia menjadi lemah, sikap dan kelakuan mereka pun menjadi bergeser kepada hal yang cenderung buruk. Karena jauh dari petunjuk Allah Yang Maha Mengetahui, Pencipta semesta alam. Harap dan takutnya bukan pada Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus semata, namun juga menaruh harap dan merasa takut pada hal lain, pada makhluk, itulah yang membuat manusia menjadi lemah dan terpuruk, serta jauh dari kebahagiaan yang hakiki. Mereka jauh dari ‘ilm atau ilmu yang merupakan lawan kata dari al-jahl. Ilmu disini bukan sekedar pengatuhan tapi petunjuk wahyu tentang hakikat segala sesuatu. Dan jelas, wahyu datang dari Allah Tuhan semesta alam yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

The Big Four Kejahiliyahan dalam Al Quran di antaranya adalah dalam hal Pemikiran, (QS Ali Imran : 154), Gaya Hidup (QS Al Ahzab : 33), Hubungan Sosial (Al Fath : 26), dan Politik (Al Maidah : 50). Untuk ini kita bahas lebih detail di lain kesempatan. Empat hal tersebut lah yang mencolok dalam masyarakat jahiliyyah kala itu. kebiasaan buruk mereka saat itu di antaranya gemar berjudi, mengundi nasib, minum khamr (beralkohol atau yang memabukan lainnya), mereka juga tidak menghormati, mereka fanatis berlebihan terhadap kabilahnya, melaksanakan pernikahan yang bathil, salah satunya adalah poliandri, satu istri memiliki lebih dari suatu suami, mereka berkorban atau menyembelih untuk dipersembahkan pada berhala, dan mereka bisa menumpahkan darah untuk hal yang sepele.

Di sisi lain mereka pun punya kebiasaan baik yang mana kita harus adil dalam melihatnya seperti, jujur dan dermawan, pemberani, menghormati tamu dan tetangga, suka memberikan suaka atau jaminan keamanan kepada mereka yang memintanya, menghormati Ka’bah, menghormati bulan-bulan haram, dan kesederhanaan dalam hidup. Setelah melihat bagaimana masyarakat jahiliyyah dulu hidup, lalu bagaimana dengan keadaan kita hari ini? Sudahkah lebih baik? atau jangan-jangan kita sama buruknya atau bahkan tidak lebih baik dari mereka dulu,, na’udzubillahi min dzalik. Wallahu ‘alam bishowab.

Wassalam.

Penulis: Abu Musa Muhammad Randi

Bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau randirowley@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *