Ja’far bin Abi Thalib Bapak bagi orang-orang miskin

Tidak hanya menjadi sepupu Rasulullah ‘alaihi wassalam, sosok mulia yang satu ini pun perawakan dan perilakunya mirip sekali dengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam. Tuturnya yang santun sikapnya yang lembut dan senang berbagi pada sesama terutama pada kaum dhu’afa. Sama seperti yang dilakukan oleh sepupunya itu.Dia sangat sayang terhadap kaum miskin yang ada di sekitarnya. Sampai Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam menjulukinya dengan sebutan “Bapak kaum miskin”. Sahabat perawi hadist terbanyak Abu Hurairah pun mengatakan “sebaik-baik manusia terhadap orang miskin adalah Ja’far bin Abu Thalib.

Dialah putra Abu Thalib, dialah cucu dari pemimpin Mekah Abdul Muthalib, seorang sahabat mulia bernama Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, kakak dari khalifah keempat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Nasab yang mulia dan keturunan terhormat yang dimilikinya itu tidak membuatnya jumawa dan berbangga diri. Mungkin sebagian orang hari ini yang lahir atau berasal dari kalangan atas akan sedikit canggung untuk berbaur dengan orang-orang keci lterlepas dari baik tidak akhlaknya secara personal. Namun itu semua tidak berlaku bagi Ja’far, bahkan dia dekat dan akrab sekali dengan orang-orang kecil, berbaur dan sayang pada orang-orang miskin.

Ja’far termasuk golongan pertama yang masuk islam, ketika mendapat kabar tentang islam dan kenabian, Ja’far langsung menyatakan keislaman bersama istrinya. Sama seperti sahabat yang lainnya yang masuk islam di masa awal, Ja’far pun mendapat siksaan dan intimidasi dari kafir Quraisy. Dan seperti sahabat yang lain pula, namun segala siksaan itu tidak membuat dirinya keluar dari islam dan berhenti berdakwah serta belajar ajaran islam bersama Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wassalam.

Ketika ada seruan Hijrah pertama kali ke Habasyah atau Ethiopia hari ini, Ja’far bersama muslimin lainnya ikut berangkat. Pada tahun 7 Hijriyah rasa rindunya untuk hidup bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Maka dia pun berangkat ke Madinah untuk hijrah yang kedua kalinya. Sesampainya di kota Nabi tersebut, Ja’far pun disambut dengan gembira oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wassalam dan para sahabat lainnya radhiyallahu’anhum. “Aku tidak tau manakah yang lebih menggembirakanku apakah penaklukan Khaibar atau kedatangan Ja’far. Ucap Rasul sambi lmemeluknya.

Tidak lama kemudian, Ja’far pun ikut serta pengiriman pasukan ke Mu’tah suatu wilayah di Syams untuk menghadapi pasukan Romawi. Pada saat itu Ja’far ditunjuk oleh Rasulullah sebagai panglima perang bersama Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah. Singkat cerita atas hikmah Allah Ja’far pun gugur secara kesatria dalam perang itu dan menjemput syahidnya. Dia kehilangan dua tangannya demi mempertahankan Panji Islam dalam peperangan.

Mendengar kabar syahidnya sepupu Rasulullah tersebut, seluruh kaum dhu’afa menangisi kepulangannya ke Rahmatullah.Karena bagi mereka sosok Ja’far sudah seperti ayah bagi mereka, yang senantiasa menyayangi mereka, menyantuni mereka, dan rela hidup seperti mereka untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Begitulah Ja’far kedudukannya di Quraisy sebelum islam atau kedudukannya di sisi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam di masa islam tidak membuatnya terbang melayang, namun tetap membumi. Semoga dia diberikan tempat terbaik di sisi Allah Azza wa Jalla, dan kita semua bisa mengambil hikmah dari kisahnya dengan izin Allah Azza wa Jalla.

Penulis: Abu Musa Muhammad Randi

@randimyusril

Bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau randirowley@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *