Ibnu Abbas, Menyikapi kelompok nyeleneh perubahan haluan pemahaman

Pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, muncul sekelompok orang nyeleneh yang membuat kacau keadaan masyarakat dan Negara saat itu. Mereka menafsirkan quran semaunya, bertindak sesuka hatinya, mudah menumpahkan darah muslimin, mengobok-ngobok aturan negara, sampai ingin mengkudeta, bahkan membunuh khalifah sebelumnya Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu. Hanya demi memuaskan dan memenangkan pemahamannya mereka bisa berbuat apapun. Padahal mereka adalah orang-orang yang intelek, bahkan hapal quran, namun sayang quran mereka hanya sampai pada kerongkongannya tidak pada hatinya. Keberadaan mereka benar-benar membuat repot pemerintahan Ali saat itu.

Banyak dari kalangan sahabat lainnya mengusulkan untuk memerangi mereka, karena memang perbuatan mereka sangat meresahkan. Namun dengan kedalaman ilmunya Ali tidak gegabah dalam bertindak dan memutuskan sesuatu. Sebelum memerangi, Ali lebih memilih untuk berdiplomasi terlebih dulu dengan baik dengan mereka. Untuk melakukan itu Ali tidak sembarang memilih orang, dia menunjuk orang yang tepat, orang yang sholih juga berilmu, orang yang mengamalkan ilmunya, orang yang benar-benar piawai dalam hal pemikiran, karena hal yang kentara rusaknya dari mereka adalah pemikirannya, yang menyebabkan mereka bertindak fatal. Pemahaman mereka yang keliru terhadap quran sangat berbahaya dampaknya pada kehidupan muslimin.

Dialah Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, seorang sahabat mulia, sama-sama sepupu Rasulullahsallallu ‘alaihiwassalam seperti Ali bin Abi Thalib. Ibnu Abbas sejak kecil hidup bersama Rasul, dan termasuk ulamanya di kalangan sahabat. Dia jugalah yang paling paham tafsir quran, jelas saja karena Rasulullah langsung yang mendoakanya untuk hal itu, selain Ibnu Abbas juga bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya .Logikanya yang tajam dan adil begitu mempesona, terutama bagi mereka kaum khawarij yang berulah itu.Karena bagi mereka yang tidak punya iman, logika adalah sesuatu, logika adalah pedoman satu-satunya. Maka tepatlah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu untuk menunjuk sepupunya Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu.

Singkatnya sampailah Ibnu Abbas di masjid mereka berada, disana terjadi perdebatan yang sangat mempesona antara Ibnu Abbas seorang diri dan mereka.mari kita simak langsung beberapa kalimat menawannya dalam perdebatan itu :

Ibnu Abbas menanyakan pada mereka, “Apa yang menyebabkan kalian menaruh dendam terhadap Ali?”

Mereka menjawab, “Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami padanya:

Pertama, ia menyerahkan keputusan hukum kepada manusia dalam urusan agama Allah, padahal Allah berfirman, ‘menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah’ (QS Al An’am : 57)

Kedua, ia berperang, tetapi tidak menawan pihak musuh da ntidak pula mengambil harta rampasan. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti harta mereka halal. Sebaliknya bila mereka orang-orang beriman, darah mereka tentu diharamkan.

Ketiga, ketika proses tahkim, ia rela menanggalkan, sifat amirul mukminin dari dirinya demi mengabulkan tuntutan lawannya. Jika dia sudah tidak menjadi Amirul mukminin berarti dia menjadi Amirul Kafirin (pemimpin orang-orang kafir).”

Argumen mereka yang hanya berdasarkan logika dangkal dan beralaskan nafsu itu dengan mudah dipatahkan oleh Ibnu Abbas.Dia pun membalas

“mengenai perkataan kalian, bahwa ia menyerahkan keputusan hukum kepada manusia dalam urusan agama Allah, apakah ada yang salah?” kemudian Ibnu Abbas membacakan quran surat Al Ma’idah ayat 95 kepada mereka dan seketika mereka terdiam, kemudian Ibnu Abbas melanjutkan, “atas nama Allah, jawablah pertanyaanku, ‘manakah yang lebih penting, menentukan keputusan hukum kepada manusia dalam urusan menjaga darah muslimin, atau kah menyerahkan hukum kepada mereka dalam urusan seekor kelinci yang harganya satu dirham?’

Para pemimpin itu khawarij itu makin kelu lidahnya, tertegun menghadapi logika tajam dan kritis itu. Mereka yang selama ini menuhankan logiknya dalam berpendapat dibantah oleh seorang yang cerdas dan tajam akal namun lembut hatinya, cukup dengan satu ayat quran yang sangat logis membungkam argumentasi logika mereka.

Kemudian Ibnu Abbas melanjutkan untuk membantah argument mereka yang kedua, “Tentang ucapan kalian bahwa ia (Ali bin AbiThalib) berperang tetapi tidak melakukan penawanan dan merebut harta rampasan perang. Apakah kalian menghendaki agar ia mengambil Aisyah, istri Rasulullah dan ibu bagi orang-orang beriman sebagai tawanan? Dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan?”

Sekali lagi argument Ibnu Abbas ulamanya umat ini pun membuat mereka bungkam seribu bahasa, kemudian tangan mereka pun merangkak ke atas dan menutupi wajah mereka sendiri.

Lalu Ibnu Abbas lanjut kepersoalan ketiga yang mereka tuduhkan, “Adapun ucapan kalian bahwa ia rela meninggalkan sifat Amirul Mukminin dari dirinya sampai akhir tahkim, dengarlah oleh kalian apa yang dilakukan oleh Rasulullahsallallahu ‘alaihiwassalam pada hari Hudaibiyah… dan seterusnya Ibnu Abbas menyampaikannya. Dan lagi, mereka pun akhirnya malu, wajah mereka pucat karena semua argument mereka patah dibantah oleh Ibnu Abbas dengan mempesona.

Kegemilingan penyampaian, dan kecerdasan Ibnu Abbas itu berhasil menghancurkan pemikiran mereka yang nyeleneh dan membuat mereka insaf dan kembali kejalan yang benar, kembali berpihak pada Ali. Mereka puas terhadap keterangan-keterangan Ibnu Abbas. Dengan ilmu yang luas dan mendalam, diiringi oleh etika adab yang memikat, akhlak mulia, Ibnu Abbas menjadi solusi bagi masalah-masalah umat dengan izin Allah AzzawaJalla.

Mudah-mudahan kita bisa semakin bersemangat dalam menuntut ilmu, supaya bisa menjadi dan memberi solusi bagi setiap permasalahan yang ada di tengah masyarkat. Mengamalkan ilmunya, dan mendapat ridho Allah AzzawaJalla. Ok bro tetap semangat dan keep the faith.

Penulis: Abu Musa Muhammad Randi

Bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau randirowley@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *