HAWA NAFSU YANG DIPERTUHAN

Tadabur 25:43

Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya (hawa nafsu) sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? (Al furqan:43)

Allah membagi hati menjadi tiga macam: hati yang sakit (maridh), hati yang keras atau mati (mayit), dan hati yang selamat (salim).

Hati yang mati adalah hati yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengetahui Tuhannya. Ia selalu menuruti keinginan nafsu dan kesenangan dirinya. Bahkan tidak memperdulikan semuanya, asalkan mendapat bagian dan keinginanya. Baik Tuhannya ridha atau murka. Jika ia mencintai, maka ia mencintai karena hawa nafsunya. Jika ia membenci, maka ia membenci karena hawa nafsunya. Jika ia memberi, maka ia memberi karena hawa nafsunya. Jika ia menolak, maka ia menolak karena hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah panutannya, kebodohan adalah kemudinya, lalai adalah sarana dan medianya. Ia terpedaya dengan pikiran untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi, mabuk dunia oleh hawa nafsu dan kesenangan diri yang fana.

Adapun hati yang selamat adalah hati orang beriman (mukmin) yang merendahkan dirinya kepada Allah. Hatinya merasa nyaman dan tenang, tunduk berserah diri, penuh taat kepada-Nya.

Pangkal dari setiap kehancuran ialah dua perkara; syahwat dan syubhat. Syubhat berkenaan dengan kesalahan persepsi tentang sesuatu. Syubhat tentang ma’rifat kepada Allah adalah yang paling berbahaya. Karena itu puncak kebodohan. Sebagaimana ma’rifat (pengetahuan) tentang Allah adalah puncak ilmu tertinggi. Salah persepsi tentang agama yang merupakan ajaran Nabi saw, syubhat tentang alam akhirat, juga termasuk syubhat yang berbahaya dan bisa menjerumuskan kepada kehancuran. Adapun syahwat, itu berkenaan dengan hawa nafsu yang telah kita bahas diatas.

Sisi lain dalam keseharian, ada sikap syahwatul ujub (gurur) yang bisa melenakan siapa saja jika tidak waspada, yaitu sikap merasa paling paling benar dan paling baik. sikap menganggap suci (mentazkiyah diri sendiri) adalah subyektifitas yang haram, terlarang.

sikap membanggakan diri adalah karakter warisan Iblis. Bahkan sikap terkutuknya itu, dilakukan terhadap makhuk terbaik ciptaan Allah, di hadapan Allah. Dia mengingkari keutamaan Nabi Adam, membanggakan diri,  dan akan terus menebar dan menghembuskan syubhat dan syahwat pada keturunan Adam a.s, tanpa henti dan bosan. “Iblis menjawab, “Saya lebih baik darinya”. (al-A’raf: 12)

Dalam ayat lain dia bersumpah akan menyesatkan Adam dan keturunannya, sehingga Allah menginformasikannya sebagai musuh nyata.

Untuk itu, fokus saja pada perbaikan diri dan kompetisi dalam kebaikan sebanyak yang dimampui. Jangan sibukkan diri dengan ujub (gurur) yang subjektif.

FASTABIQUL KHOIROT .. Allah, Rasul, dan Orang-orang beriman akan menjadi saksi yang adil. Lihat At-Taubah: 105.

Penulis : Nasrullah, Lc.,MH (dosen mahad Imarat Bandung & mahad aly Kulliyatul Madinah Tasikmalaya)

bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau nasrul.kng@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *