Hakikat Hidayah

Ihdinas shirotol mustaqim. Inilah munajat hamba dengan Tuhannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi bahwa al fatihah merupakan surat munajat antara seorang hamba dengan Allah ta’ala. Ayat pertama hingga ayat keempat adalah munajat pujian dan sanjungan kepada Allah, dan pengukuhan Tauhid.

ayat kelima, merupakan resume intisari sekaligus tujuan (goals) dari bacaan al fatihah, sholat, dan doa yang senantiasa dibaca siang dan malam. Hingga terisilah hati orang beriman dengan rasa aman dan damai.

Untuk menjadi baik dan soleh, diperlukan hidayah (petunjuk). Hidayah ada dua macamnya: hidayah irsyad dan hidayah taufik.

Hidayah irsyad berupa nasehat, tausiah, pengajaran, renungan, tafakur dan tadabur ayat-ayat Allah baik yang tersurat dalam kitab suci maupun yang tersirat di alam semesta. Hidayah irsyad adalah suatu upaya proses yg bisa dilakukan manusia untuk memperbaiki dirinya ataupun memperbaiki orang lain.

Hidayah taufik, berupa petunjuk, ilham, kemudahan, yang diberikan Allah ta’ala kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Hidayah ini mutlak hak prerogatif Allah dan tidak ada campur tangan pihak lain didalamnya. Manusia hanya dapat mengupayakannya dengan berdoa memohon hidayah dan taufik agar ditunjukan atau dimudahkan baginya jalan menuju kebaikan dan melakukan amal soleh.

Idealnya, agar usaha mencari hidayah itu berhasil. Baik untuk kebaikan dirinya maupun kebaikan orang lain. maka seseorang harus menempuh kedua cara diatas dengan maksimal mengupayakan hidayah irsyad dibarengi dengan doa yang sungguh-sungguh memohon diberikan hidayah taufik oleh Allah ta’ala.

karena sejatinya, seseorang menjadi baik, taat dan soleh itu bukanlah karena kekuatan dan kehebatan dirinya. Akan tetapi karena adanya taufik, bimbingan, petunjuk dan kemudahan dari Allah bagi orang tersebut sehingga ia mampu dan kuat melakukan amal soleh dan ibadah. Jika hal itu dipahami dengan baik, maka celah ujub (bangga diri) dan pintu riya (pamer diri) akan tertutup, sehingga rasa syukur lah yang muncul atas nikmat taufik tersebut.

Terkadang muncul pertanyaan, bukankah kita sudah ada pada jalan hidayah, atau bahasa populer sekarang “sudah hijrah.” Lantas mengapa diperintahkan untuk terus bersoa memohon hidayah. Jawabannya, saat seseorang sedang ada pada jalan kebaikan, ia sangat memerlukan penguat dan peneguh agar dapat konsisten pada kondisi itu. Mengingat ada banyak gangguan dan godaan yang setiap saat dpt memalingkannya dari jalan lurus, baik godaan syetan maupun hawa nafsunya sendiri. Syetan (Jin) pernah bersumpah dan berjanji akan memalingkan manusia dari jalan yang lurus (al a’raf:16-17), dengan berbagai cara, di setiap ruang dan waktu manusia. Hanya orang-orang yang ikhlas saja yang diselamatkan (Shad:83).

Penulis : Nasrullah, Lc.,MH (dosen mahad Imarat Bandung & mahad aly Kulliyatul Madinah Tasikmalaya)

Bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau nasrul.kng@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *