DOSA JARIYAH, MENANGGUNG DOSA ORANG LAIN

Tadabur al ankabut:13

Kita sudah sangat repot membawa dosa-dosa kita. Jangan diperberat dgn menanggung dosa yg lain. Dengan menjadi fasilitator keburukan bagi yg lain. Memberi ruang utk keburukan, contoh teladan yg buruk, trend, kebiasaan, atau apapun yg tdk baik, sehingga diikuti oleh orang lain, dan ia mendapat dosa jariah yg mengalir terus kepadanya.

Siapa yg menunjukkan (contoh) pd sesuatu, maka ia seperti yg melakukannya. (hadis sohih riwayat Muslim/1017)

Pun sebaliknya, siapa yg menunjukkan pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.

Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, (Surat Al-Ankabut, Ayat 13)

“Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban”. (az-Zukhruf: 19)

Kezaliman, bisa menjadikan seseorang menanggung dosa orang lain. Karena ia akan menggerogoti pahala amal soleh. Jika pahala tersebut habis tak tersisa, maka berikutnya ialah menanggung dosa orang terzalimi tersebut. Sehingga kita menghadap Allah dengan tangan kosong tanpa pahala dan amal baik.

Untuk itu jangan bersedih, jika seseorang menyakiti kita dengan perkataan dusta, fitnah, nyinyir, perbuatan, atau kecurangan. Karena perkataan, perbuatan atau kecurangannya itu akan dihisab dimintai pertanggung jawaban dan kita akan mengambil hak kita secara penuh, tanpa kurang sedikit pun.

“Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”. (al-Baqarah: 281)

 Jika kita mau memaafkannya, maka akan menjadi tambahan kebaikan dan pahala dalam timbangan amal kita.

Pengadilan di akhirat ditegakkan karena di dunia ini banyak orang tidak bisa mengambil haknya dan banyak orang zalim yang belum mendapat hukuman yang setimpal.

Itulah hukum keadilan Allah, hakim yang maha Adil. Tak ada sesuatu apa pun yang meleset dari pengetahuan Allah, sedikit pun.  Allah mengampuni dan memberi karunia berdasarkan sifat rahman dan rahim-Nya. Pun menghukum dan menahan karunia berdasarkan sifat adil dan bijaksana-Nya.

Tidak sempurna iman seseorang, hingga ia meyakini bahwa apa yang akan menimpa dirinya, tidak akan meleset darinya. Dan apa yang tidak akan menimpanya, tidak akan mengenainya. (Hadis sohih)

Penulis : Nasrullah, Lc.,MH (dosen mahad Imarat Bandung & mahad aly Kulliyatul Madinah Tasikmalaya)

bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau nasrul.kng@gmail.com . Baarakallahu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *