DAVID VS GOLIAT

Belajar dari kisah heroik Daud as menumbangkan raksasa Jalut.

Tadabur surat albaqarah246-251

sebuah kisah universal yang sangat menginspirasi, sehingga hampir di seluruh dunia, semua orang telah mengetahui ceritanya. Bahkan saking meng-inspirasi-nya, kisah ini selalu dibuat menjadi sebuah ibarat ketika terjadi adanya dua kekuatan yang tidak berimbang sedang berhadapan.

Singkat kisah, ada suatu kaum yang hidup tertindas dan tertekan oleh kaum lain, kaum tertindas itu senantiasa takut dan merasa tidak berdaya menghadapi kaum yang menindasnya karena memiliki pasukan hebat, banyak jumlahnya, serta dipimpin seorang komandan yang raksasa kuat perkasa tiada tanding. Hingga Allah menolong kaum tertindas itu dengan memilihkan untuk mereka, melalui wahyu kepada Nabi Samuel,seorang panglima Talut (Saul) yang cakap dalam memimpin dan memilili fisik yang kuat(bastotanfililmiwaljismi).Dalam pasukan Talut tersebut ada seorang pemuda cerdik dan pemberani, Daud (David) yang kelak diangkat menjadi Nabi dan sekaligus Raja oleh Allah ta’ala di kemudian hari, ia berhasil -dengan ijin Allah- menumbangkan kepongahan sang raksasa Goliat, setelah semua orang mundur tidak ada yang berani berhadapan keperkasaanya.

Serangkaian kisah Syammil (Samuel), Talut (Saul), Jalut (Goliath) dan Daud (Davidh) tersebut dikabarkan dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 246 hingga 251. Tafsir Ath Thabari pun memaparkan kisah tersebut hingga berpuluh halaman. Demikian pula tafsir Ibnu Katsir menjelaskan kisah tersebut, sebagaimana Beliau mengisahkannya pula dalam Kitab Qoshosal Anbiya (Stories of The Prophet).

Dengan demikian, dapat dipastikan kebenaran kisah Talut dan Jalut tersebut. Allah telah menyatakan dipenghujung kisah ayat tersebut bahwa kisah tersebut adalah nyata terjadi diantara  kehidupan para Nabi dan Rasul.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah heroik tersebut diantaranya:

  1. Jalan dakwah memerlukan memerlukan kesabaran dan ujian.
  2. Ujian dalam dakwah terkadang melenakan dan memanjakan hawa nafsu, yang akhirnya memabawa kepada kelemahan dan kemalasan.
  3. Tidak menjadikan tolak ukur materi dan banyaknya jumlah sebagai faktor kemenangan dan keberhasilan
  4. Keseriusan, disiplin, Sabar dan Doa disaatkrisis adalah faktor kesuksesan.
  5. Berserah diri dan hanyaberhaarapkepada Allah ta’ala.

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. Al baqarah:249

Penulis : Nasrullah, Lc.,MH (dosen mahad Imarat Bandung & mahad aly Kulliyatul Madinah Tasikmalaya)

bila ada pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa melalui email beliau nasrul.kng@gmail.com . Baarakallahu fiikum



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *